Sunday, September 04, 2011

Nyayian si Burung Nazar


Sahabat-sahabatnya, memangilnya Nazar .Padahal nama sebenarnya adalah Muhamad Nazaruddin. Mungkin akibat sapaan kawan-kawanya itu, Nazaruddin benar-benar bermetamorfosis menjadi sosok seperti burung Nazar. Nazar bendahara demokrat, tiba-tiba menjadi terkenal. Tapi sedikit yang tau siapa sebenarnya si Burung Nazar.
Baru-baru ini saya menonton seri Animal Planet yang mengisahkan burung Condor di Amerika yang menjadi nama lain si Nazar. Saya sungguh terkagum-kagum akan kisah si Nazar yang hebat dengan sensor aroma daging (busuk) sangat tajam, daya jelajah yang luas, kemampuan inflitrasi yang tinggi, membuat burung Nazar dan kelompoknya menjadi salah satu predator yang tangguh.
Dibalik kehebatanya, kisah tentang burung kondor juga diliputi banyak kegagalan. Januari 2011, seekor Nazar ditangkap oleh Pemerintah Arab Saudi karena diduga merupakan mata-mata untuk Israel. Burung nazar tersebut membawa alat transmisi GPS atas nama Universitas Tel Aviv. Tak urung Nazar menjadi pemicu kemarahan Negara-negara liga arab.
Segerombolan Nazar juga pernah menjadi perlambang dari sebuah gerakan kampanye pembunuhan politik dan pengumpulan intelijen yang dinamai kontra-terorisme, yang dilakukan bersama oleh badan intelijen dan keamanan Argentina, Bolivia, Brazil, Chili, Paraguay, dan Uruguay pada pertengahan 1970-an.
Masih pada paruh tahun yang sama Rendra membuat sebuah pementasan yang diberinya judul Mastodon dan Burung Kondor yang berlatar sebuah negara di Amerika Selatan. Memang Amerika saat itu tak jauh berbeda dengan Indonesia yang dilanda pembangunan yang melambat.Untuk ukuran dekade 1970-an, di mana Soeharto sedang gencar mencapai stabilitas politik, cerita Mastodon dan Burung Kondor bisa dikatakan sangat keras dan berani. Secara garis besar, pertunjukan ini berkisah tentang sebuah negeri yang dipimpin diktator bernama Kolonel Max Carlos. Max Carlos bisa jadi adalah representasi dari Soeharto: keras, militeristik, dan menghalalkan segala cara demi tercapainya “tujuan pembangunan”. Dalam pentas ini, simbol mastodon—gajah purba berukuran raksasa—mengacu pada Carlos.
Sementara, burung kondor yang juga nazar hidup di pegunungan benua Amerika—merupakan simbol rakyat tertindas, dan terutama merupakan simbol Jose Karosta, penyair melankolis yang mengkritik cara Carlos memimpin melalui puisi-puisinya. Selain Carlos dan Karosta, tokoh sentral pentas ini adalah Juan Frederico, seorang ekstrimis yang berniat menumbangkan Carlos melalui revolusi bersenjata. Renda mampu mengolah pentasnya tentang sosok Nazar yang kali itu jadi sebuah penanda dari perlawanan pada zamanya.
Sekarang dari banyak kisah Nazar itu, bagaimana kita melihat Nazar yang kini sedang dipentaskan dilayar Televisi kita setiap hari? Maka sebagaimana juga sebuah pentas teater, interpretasi akan diserahkan kepada penontonya karena setiap kepala punya cara pandang sendiri melihat Nazar.
Ada yang memilih memandang Nazar hanyalah mata-mata yang sial tertangkap membawa GPS yang bermerek kekuasaan.Karena itulah Nazar mereka lekatkan dengan penanda yang melekat padanya. Merek dari perlambang partai politik yang kini berkuasa. Sedangkan dari segi penguasa melihat Nazar adalah sebuah upaya kempanye pembunuhan politik dari para oposisi yang berniat menjatuhkan kekuasaan.Tentu saja adapula yang melihat Nazar seperti pentas rendra bahwa Nazar adalah kaki tangan dari Max Carlos yang kejam, otoriter dan penuh kamuflase atas nama pembangunan dan pertumbuhan.
Kini setiap nyanyian Nazar selalu riuh rendah akan komentar. Ada yang bertepuk tangan, ada yang miris adapula yang meringis. Banyak yang berharap Nazar segera akan bersuara dan menyelesaikan lagunya, agar pentasnya segera usai, karena sudah terlalu panjang dan sering pentasnya di bahas, didiskusikan dan jadi bahan perdebatan.Tapi ada juga yang tetap berharap agar Nazar tak beryanyi. Biarlah Nazar bungkam dan lupa ingatan, karena nyanyian Nazar akan menjadi alamat buruk bagi mereka, seperti pentas ‘Mastodon dan Burung Kondor’ Rendra yang diangap supersif bagi Rezim militer saat itu. Kita berharap Nyayian si Nazar tak bernasip sama yang akan berakhir sunyi setelah pentas, karena kita perlu tau siapa sebenarnya sang Max Carlos atau juga kita perlu tau siapa yang menjadi sutradara hebat si Nazar seperti juga almarhum Rendra yang luar biasa itu!