Nak, mungkin aku sudah beberap kali mengulangnya terus menerus. Tapi tak apa, karena keduanya adalah hal yang sangat aku rindukan, "Rumah" dan satunya lagi "Pulang".Entah kenapa dua hal ini sangat aku rindukan. Mungkin karena aku telah memiliki tujuan untuk pulang yakni dirimu dan keluarga kecil kita dimakassar.
Tapi dimana kita berumah? aku tak tau nak, karena rasanya masih sekian kelokan lagi mesti kita lalui.Masih begitu banyak hutan belantara kehidupan dari ratusan perjalanan yang mesti aku tempuh, tapi setidaknya aku telah memiliki jarum kompasnya dirimu dan ibumu.
Nak, Rumah bagiku bukan sekedar tempat berteduh dari panasnya matahari atau hujan yang datang. Tapi rumah adalah tempat ketika jiwa kita menyatu, rasa kita larut bersama tanpa sekat dan tanpa jarak. Itulah rumah nak, sesuatu yang sangat dalam bagiku.Mungkin juga sangat sederhana 'Tempat untuk Pulang".
Tadi seorang kawanku bertanya, 'bang kapan pulang ke bandung'? Aku terdiam,benarkah bandung adalah tempatku untuk pulang ? aku coba membetulkan pertanyaan kawanku tadi,
harusnya kamu bertanya kapan aku pulang ke anak istriku?
oh yah, anak dan istri benar bang, artinya rumah dan tempat pulangnya ke makassar yah?
Aku tersenyum menatap kawan didepanku, namanya sigit Ia belum terlalu mengenalku dengan baik.
Sigit, aku belum tau hendak berumah kemana? Karena rasanya kami mungkin masih merupakan musafir di bumi ini, tapi seorang musafir pasti tau kemana dia hendak pergi, karena Ia telah memulai perjalanan...
coretan hari ini...
Thursday, February 23, 2012
Monday, February 20, 2012
Rindu Puisi
Pernahkah anda begitu rindu dengan puisi? Ya, aku kini merindukanya.Karena puisi bukan sekedar larik indah yang disusun oleh sederetan alfabet. Bukan Pula kumpulan kata-kata manis yang meliuk-liuk penuh fantasi dan rima. Puisi adalah karya jiwa yang sangat halus, bertutur tentang kebeningan diri dan wajah hati.
Puisi selalu jujur, bertutur sederhana namun melayang bebas menembus ratusan frasa didalam diri. Sepertinya aku rindu puisi....
Puisi selalu jujur, bertutur sederhana namun melayang bebas menembus ratusan frasa didalam diri. Sepertinya aku rindu puisi....
Thursday, February 02, 2012
Mencari Pemimpin Indonesia?
Indonesia belum juga beranjak dari situasi krisis. Mulai dari krisis pangan, bahan bakar, dan terutama krisis kepemimpinan dari level Negara sampai Kepala Daerah. Tengok saja berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, ada pemimpin partai berkuasa yang sedang berusaha dijatuhkan dari partainya, ada kepala daerah yang legitimasinya hangus terbakar bersama kantor Bupatinya. Ada pula mantan pemimpin dunia perbankan yang dijadikan tersangka. Mungkin saja segera menyusul Presiden yang dijatuhkan dari puncak kekuasaanya.
Apa yang terjadi sebenarnya ? mengapa negeri ini belum bisa menemukan sosok pemimpin yang sabdanya diikuti, yang prilakunya menjadi hukum bagi warga negaranya ? Ada baiknya kita berkaca pada sosok pemimpin Cina Mao Tse Tung yang menjadi peletak kebangkitan cina pada masa lalu, yang kini Negeri tersebut tampil sebagai negara super power dan berhasil keluar dari masa-masa suram krisis masa lalunya.
Apa yang dilakukan oleh ketua Mao ketika kemiskinan mendera warganya? ketika sekutu utama dari cina yakni uni sovyet memandang rendah negeri tiarai bambu kala itu, dan julukan sebagai negara gagal datang kepada Cina. Bahkan secara sarkasitik Uni soveyet mengeluarkan peryataan yang melukai seluruh rakyat dan pemimpin cina ‘ meskipun rakyat cina harus berbagi satu celana dalam untuk dua orang, Cina tidak pernah mampu membayar hutangnya’ ungkap seorang pemimpin sovyet kala itu.
Penghinaan yang dilancarkan sovyet tersebut, spontan membuat Mao mengambil sikap yang sungguh luar biasa. Bukanya sibuk melakukan klarifikasi dan berbagai apologi melalui angka statistika dan propaganda keberhasilan pemerintahanya, Mao justru bangkit dan menjadikan penghinaan tersebut sebagai sebuah momentum untuk manyatukan kekuataan bersama satu milyar rakyatnya, agar secara bersama-sama bisa lepas dari jaring kemiskinan.
Melalui sebuah kebijakan sederhana namun mampu memberikan kontribusi secara besar, Mao menunjukan kualitas kepemimpinanya dengan langkah mengajak setiap warga negaranya untuk menyumbangkan satu butir beras; ‘ya satu butir beras untuk setiap anggota keluarga setiap kali mereka akan memasak’.
Jika satu anggota keluarga terdiri atas tiga orang maka cukup disisihkan tiga butir beras. Beras yang disisihkan dari satu milyar penduduk cina akan menghasilkan satu milyar butir beras setiap hari. Hasilnya dikumpulkan kepada pemerintah untuk dijual, uangnya dipakai membayar hutang kepada negara pemberi hutang dengan dada yang membusung tanpa memelas meminta penundaan utang.
Akhirnya cina bisa melepaskan diri dari ketergantungan, penghinaan, pelecehan, dan terutama meyakinkan pada mereka bahwa pemimpin mereka adalah sosok yang layak dipuja dan dihormati.Cerita tentang Mao dan kebijakanya sebenarnya mengigatkan kita tentang fungsi dan tugas seorang pemimpin adalah mereka yang berani mengambil keputusan pada saat yang tepat, pemimpin dipilih karena ia dipercaya berbeda dengan yang lainya, mereka yang mampu bertindak dan menggerakan bukan mereka yang senantiasa lari dari masalah dan mencari kambing hitam dibalik kegagalanya.
Krisis Pagan, Krisis Kepemimpinan Negara
Bagaimana mungkin negara yang pernah didengungkan dengan swasembada berasnya yang dikenal dengan luas dan basis pertanian agarisisnya seperti indonesia justru sampai saat ini masih mengipor beras yang dari tahun ketahun jumlahnya terus naik diatas 1,5 juta ton ? Sementara Negara sekecil Vietnam yang menjadi suber import beras indonesia sebanyak 892,9 ribu ton dengan nilai US$ 452,2 juta (Data BPS 2011) hanya memiliki luas daratan 331.653 km² yang berarti 1/6 luas daratan indonesia yang mencapai 1.922.570 km².
Jika pemerintah berdalih dengan alasan besarnya jumlah penduduk atau produksi pertanian kita masih rendah, itu justru membuktikan Kebanggaan ekonomi dan politik tidak ada lagi, dan justru semakin menelanjangi kegagalan menyediakan pangan untuk rakyat yang akan memacu kemarahan publik bahwa selama ini pemerintah tidak pernah serius membangun kedaulatan pangan dalam negeri, hal ini semakin terbukti dengan konversi lahan yang akhir-akhir ini menyulut konflik diberbagai daerah. Dimana bukanya serius menggerakan program intensifikasi pertanian, pmerintah justru lebih memilih kekuasan modal yang sifatnya jangka pendek yang mengubah lahan pertanian menjadi lapangan golf atau program investasi bagi para penggusaha besar yang hanya mengguntungkan segelintir orang.
Bukan hanya pengelolaan pangan yang berada di daratan yang membuat kita semakin percaya bahwa kualitas kepemimpinan negeri ini bermasalah. Lautan kita yang sungguh luas tak mampu pula dioptimalkan dengan baik, panjang pantai indonesia 81.000 km atau 14% garis pantai seluruh dunia, di mana 2/3 wilayah Indonesia berupa perairan laut tapi sampai saat ini kita masih mengimpor garam industri hingga 100 persen dengan jumlah berkisar 100-200 ribu ton.
Persoalan laut dan daratan ini, semakin membuktikan kegagalan kepemimpinan dalam menggurusi negeri ini dan kedaulatan kita sebagai sebuah bangsa mandiri. Harapan kita masih jauh dari apa yang dicita-citakan kita sebagai sebuah bangsa yang termaktup dalam undang-undang dasar 1945 yakni menjadi bangsa yang berdaulat, cerdas dan sejahtera.
Mengubah Paradigma Kepemimpinan, Mencari Pemimpin Indonesia
Belajar dari kisah Mao harusnya telah menyadarkan kita tentang tujuan sebuah kepemimpinan. Saat ini para pemimpin yang menjadi pengelola negeri ini masih berkutat pada ‘power oriented’orentasi kekuasaan semata, bukan berbicara menyangkut ‘Achievement oriented’ yakni kepemimpinan yang berbasis prestasi. Sehingga berbagai isu politik yang dominan adalah berkutat pada sirkuit pertarungan elit dan kekuasaan.
Hal tersebut semakin diperparah oleh mental kepemimpinan yang menghuni sumber distribusi kekuasaan seperti partai politik yang terbukti gagal dalam melahirkan cetak biru kualitas kepemimpinan yang mumpuni. Pola seleksi dan rekrutmen yang bermasalah sampai pada orentasi kekuasaan yang lebih fokus untuk memperkaya diri sendiri dengan berbagai prilaku korup menjadi lebih dominan ketimbang membangun kekuatan bangsa.
Melihat realitas yang terjadi sepertinya sudah waktunya kita memikirkan melakukan sebuah proses pergantian kepemimpinan yang lebih cepat, yang mampu membawa bangsa ini keluar dari jeratan krisis yang terjadi. Dengan catatan kepemimpinan yang dilahirkan benar-benar mampu menggerakan dan berpihak kepada rakyat untuk sama-sama keluar dari ketergantungan yang selama ini ada. Pemimpin yang percaya kedaulatan bisa diwujudkan dengan menjadi teladan yang berani berpikir dan bertindak, demi kedaulatan dan kehormatan bangsa di darat maupun dilaut. Mereka yang berani menjadikan kritik sebagai sarana untuk bangkit bukan justru sibuk memberi klarifikasi akan kegagalanya.
Apa yang terjadi sebenarnya ? mengapa negeri ini belum bisa menemukan sosok pemimpin yang sabdanya diikuti, yang prilakunya menjadi hukum bagi warga negaranya ? Ada baiknya kita berkaca pada sosok pemimpin Cina Mao Tse Tung yang menjadi peletak kebangkitan cina pada masa lalu, yang kini Negeri tersebut tampil sebagai negara super power dan berhasil keluar dari masa-masa suram krisis masa lalunya.
Apa yang dilakukan oleh ketua Mao ketika kemiskinan mendera warganya? ketika sekutu utama dari cina yakni uni sovyet memandang rendah negeri tiarai bambu kala itu, dan julukan sebagai negara gagal datang kepada Cina. Bahkan secara sarkasitik Uni soveyet mengeluarkan peryataan yang melukai seluruh rakyat dan pemimpin cina ‘ meskipun rakyat cina harus berbagi satu celana dalam untuk dua orang, Cina tidak pernah mampu membayar hutangnya’ ungkap seorang pemimpin sovyet kala itu.
Penghinaan yang dilancarkan sovyet tersebut, spontan membuat Mao mengambil sikap yang sungguh luar biasa. Bukanya sibuk melakukan klarifikasi dan berbagai apologi melalui angka statistika dan propaganda keberhasilan pemerintahanya, Mao justru bangkit dan menjadikan penghinaan tersebut sebagai sebuah momentum untuk manyatukan kekuataan bersama satu milyar rakyatnya, agar secara bersama-sama bisa lepas dari jaring kemiskinan.
Melalui sebuah kebijakan sederhana namun mampu memberikan kontribusi secara besar, Mao menunjukan kualitas kepemimpinanya dengan langkah mengajak setiap warga negaranya untuk menyumbangkan satu butir beras; ‘ya satu butir beras untuk setiap anggota keluarga setiap kali mereka akan memasak’.
Jika satu anggota keluarga terdiri atas tiga orang maka cukup disisihkan tiga butir beras. Beras yang disisihkan dari satu milyar penduduk cina akan menghasilkan satu milyar butir beras setiap hari. Hasilnya dikumpulkan kepada pemerintah untuk dijual, uangnya dipakai membayar hutang kepada negara pemberi hutang dengan dada yang membusung tanpa memelas meminta penundaan utang.
Akhirnya cina bisa melepaskan diri dari ketergantungan, penghinaan, pelecehan, dan terutama meyakinkan pada mereka bahwa pemimpin mereka adalah sosok yang layak dipuja dan dihormati.Cerita tentang Mao dan kebijakanya sebenarnya mengigatkan kita tentang fungsi dan tugas seorang pemimpin adalah mereka yang berani mengambil keputusan pada saat yang tepat, pemimpin dipilih karena ia dipercaya berbeda dengan yang lainya, mereka yang mampu bertindak dan menggerakan bukan mereka yang senantiasa lari dari masalah dan mencari kambing hitam dibalik kegagalanya.
Krisis Pagan, Krisis Kepemimpinan Negara
Bagaimana mungkin negara yang pernah didengungkan dengan swasembada berasnya yang dikenal dengan luas dan basis pertanian agarisisnya seperti indonesia justru sampai saat ini masih mengipor beras yang dari tahun ketahun jumlahnya terus naik diatas 1,5 juta ton ? Sementara Negara sekecil Vietnam yang menjadi suber import beras indonesia sebanyak 892,9 ribu ton dengan nilai US$ 452,2 juta (Data BPS 2011) hanya memiliki luas daratan 331.653 km² yang berarti 1/6 luas daratan indonesia yang mencapai 1.922.570 km².
Jika pemerintah berdalih dengan alasan besarnya jumlah penduduk atau produksi pertanian kita masih rendah, itu justru membuktikan Kebanggaan ekonomi dan politik tidak ada lagi, dan justru semakin menelanjangi kegagalan menyediakan pangan untuk rakyat yang akan memacu kemarahan publik bahwa selama ini pemerintah tidak pernah serius membangun kedaulatan pangan dalam negeri, hal ini semakin terbukti dengan konversi lahan yang akhir-akhir ini menyulut konflik diberbagai daerah. Dimana bukanya serius menggerakan program intensifikasi pertanian, pmerintah justru lebih memilih kekuasan modal yang sifatnya jangka pendek yang mengubah lahan pertanian menjadi lapangan golf atau program investasi bagi para penggusaha besar yang hanya mengguntungkan segelintir orang.
Bukan hanya pengelolaan pangan yang berada di daratan yang membuat kita semakin percaya bahwa kualitas kepemimpinan negeri ini bermasalah. Lautan kita yang sungguh luas tak mampu pula dioptimalkan dengan baik, panjang pantai indonesia 81.000 km atau 14% garis pantai seluruh dunia, di mana 2/3 wilayah Indonesia berupa perairan laut tapi sampai saat ini kita masih mengimpor garam industri hingga 100 persen dengan jumlah berkisar 100-200 ribu ton.
Persoalan laut dan daratan ini, semakin membuktikan kegagalan kepemimpinan dalam menggurusi negeri ini dan kedaulatan kita sebagai sebuah bangsa mandiri. Harapan kita masih jauh dari apa yang dicita-citakan kita sebagai sebuah bangsa yang termaktup dalam undang-undang dasar 1945 yakni menjadi bangsa yang berdaulat, cerdas dan sejahtera.
Mengubah Paradigma Kepemimpinan, Mencari Pemimpin Indonesia
Belajar dari kisah Mao harusnya telah menyadarkan kita tentang tujuan sebuah kepemimpinan. Saat ini para pemimpin yang menjadi pengelola negeri ini masih berkutat pada ‘power oriented’orentasi kekuasaan semata, bukan berbicara menyangkut ‘Achievement oriented’ yakni kepemimpinan yang berbasis prestasi. Sehingga berbagai isu politik yang dominan adalah berkutat pada sirkuit pertarungan elit dan kekuasaan.
Hal tersebut semakin diperparah oleh mental kepemimpinan yang menghuni sumber distribusi kekuasaan seperti partai politik yang terbukti gagal dalam melahirkan cetak biru kualitas kepemimpinan yang mumpuni. Pola seleksi dan rekrutmen yang bermasalah sampai pada orentasi kekuasaan yang lebih fokus untuk memperkaya diri sendiri dengan berbagai prilaku korup menjadi lebih dominan ketimbang membangun kekuatan bangsa.
Melihat realitas yang terjadi sepertinya sudah waktunya kita memikirkan melakukan sebuah proses pergantian kepemimpinan yang lebih cepat, yang mampu membawa bangsa ini keluar dari jeratan krisis yang terjadi. Dengan catatan kepemimpinan yang dilahirkan benar-benar mampu menggerakan dan berpihak kepada rakyat untuk sama-sama keluar dari ketergantungan yang selama ini ada. Pemimpin yang percaya kedaulatan bisa diwujudkan dengan menjadi teladan yang berani berpikir dan bertindak, demi kedaulatan dan kehormatan bangsa di darat maupun dilaut. Mereka yang berani menjadikan kritik sebagai sarana untuk bangkit bukan justru sibuk memberi klarifikasi akan kegagalanya.
Wednesday, December 21, 2011
'Sekali Lagi Tentang Cinta'
Mungkin Cinta adalah bahasa paling universal bagi seluruh umat manusia di semesta jagad raya.Cinta tak pernah memilih warna kulit, kelas sosial atau usia. Tak memandang manusia Afrika, Asia atau Eropa. Cinta terlalu universal untuk sebuah ras, demikian pula terlalu indah untuk dibatasi oleh strata sosial dan berbagai sekat hitungan angka pada usia.
Cinta itu memiliki energi dan etos sendiri. Cinta mampu menembus perangkap ruang, karena se-Universalnya cinta bukan terikat oleh tempat tapi hati yang abstrak dan ruang yang sunyi didalam kedirian. Cinta juga adalah kontradiksi yang sangat sulit untuk di materialkan karena cinta bukan karena ? atau mengapa? Tapi cinta itu terlalu kosmos dan acak, walau supardi penyair yang terkenal itu coba mendekatinya lewat puisi;
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..
Cinta mungkin tak sesederhana kata supardi, tapi belum tentu sesulit sebuah definisi. Karena cinta bukan sekedar hukum ‘causalitas’ yakni sebab yang berakibat. ‘Kayu yang dibakar’ kemudian menjadi ‘abu’ atau ‘awan kepada hujan yang menjadikanya tiada’. Cinta itu abstrak bahkan terlalu naif, seperti kata sebuah syair yang mungkin mengelikan ‘dari mata turun ke hati’.
Tapi oleh para penyair yang lain, teryata cinta itu tak butuh mata tapi rasa, karena mata cenderung menipu tapi hati itu terlalu luas untuk sebuah batas cara pandang alam meterial. Manusia paling sempurnapun tidak bisa melupakan cintanya yang telah terlepasoleh batas waktu dan takdir. Adalah Mazin bin Abdul Karim Al Farih dalam kitabnya Al Usratu bilaa Masyaakil pernah mengutip dari perawi hadis Bukhari; Suatu hari istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain (yakni ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha) berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada seorang pun dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti cemburuku pada Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyebutnya’.
Bahkan seorang Rasul yang Maha sempurna sekalipun, tetap menyimpan’ Cintanya’ tanpa mengenal batas dari sebuah masa? Apakah dia salah? Mengapa ? sementara dalam sebuah nasihat perkawinan kawanku Amir di sebuah kampung di Sidrap Sulawesi Selatan, seorang ustadz pernah berkata ; ‘sebaiknya jangan mengulang-ngulang seseorang yang pernah ada dihati pada masa sebelum pernikahan, sebab akan menyebabkan rasa curiga dan cemburu salah satunya.Pikiranku segera membantahnya saat itu, bagaimana dengan konteks cinta Rasul kepada Khadijah yang membuat Aisyah selalu cemburu ? Apakah Nabi Salah? Tapi sudahlah mungkin ini hanya soal cara memandang cinta konstitusi dan cinta esensial.
Karena cinta esensial bukan hanya sekedar kisah antara sepasang remaja dalam dongeng abadi Shakespeare romeo and juliet. Atau berbagai narasi filsafat romantisme yang di gelorakan oleh Fichte, Schelling, Schopenhauer, dan Nietzsche tentang ‘Dionysian’ yakni emosi yang meluap antara seorang yang berbeda jenis atau sesama jenis.
Cinta juga bisa lahir dari sepasang saudara yang saling mengasihi bukan karena apa dan mengapa? Bukan juga dari mata turun ke hati, tapi karena mereka secara bersama-sama mencoba lepas dari ruang,waktu, usia, ikatan material yang butuh mengapa? Karena cinta esensial tak pernah butuh jawaban, Ia cukup menjadi rasa dan kesadaran bahwa takdir telah memilih mereka untuk bersaudara tanpa perlu tau mengapa Tuhan memilih menyatukan takdirnya.
Kepada kakaku yang telah mengajarkan aku kelembutan dan arti cinta yang tak butuh tanya. Selamat berulang tahun.... ‘Be king for your own happiness’
Kepada saudara-saudaraku yang telah menghabiskan waktu bersama dua tahun ini, kepada seseorang yang menjaga hatiku dengan baik didalam hati yang sudah tak butuh jarak, yang sudah terbiasa mengenal kata tak bersama dan tak berwaktu ...sekali lagi aku mencintai kalian...
Cinta itu memiliki energi dan etos sendiri. Cinta mampu menembus perangkap ruang, karena se-Universalnya cinta bukan terikat oleh tempat tapi hati yang abstrak dan ruang yang sunyi didalam kedirian. Cinta juga adalah kontradiksi yang sangat sulit untuk di materialkan karena cinta bukan karena ? atau mengapa? Tapi cinta itu terlalu kosmos dan acak, walau supardi penyair yang terkenal itu coba mendekatinya lewat puisi;
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..
Cinta mungkin tak sesederhana kata supardi, tapi belum tentu sesulit sebuah definisi. Karena cinta bukan sekedar hukum ‘causalitas’ yakni sebab yang berakibat. ‘Kayu yang dibakar’ kemudian menjadi ‘abu’ atau ‘awan kepada hujan yang menjadikanya tiada’. Cinta itu abstrak bahkan terlalu naif, seperti kata sebuah syair yang mungkin mengelikan ‘dari mata turun ke hati’.
Tapi oleh para penyair yang lain, teryata cinta itu tak butuh mata tapi rasa, karena mata cenderung menipu tapi hati itu terlalu luas untuk sebuah batas cara pandang alam meterial. Manusia paling sempurnapun tidak bisa melupakan cintanya yang telah terlepasoleh batas waktu dan takdir. Adalah Mazin bin Abdul Karim Al Farih dalam kitabnya Al Usratu bilaa Masyaakil pernah mengutip dari perawi hadis Bukhari; Suatu hari istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain (yakni ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha) berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada seorang pun dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti cemburuku pada Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyebutnya’.
Bahkan seorang Rasul yang Maha sempurna sekalipun, tetap menyimpan’ Cintanya’ tanpa mengenal batas dari sebuah masa? Apakah dia salah? Mengapa ? sementara dalam sebuah nasihat perkawinan kawanku Amir di sebuah kampung di Sidrap Sulawesi Selatan, seorang ustadz pernah berkata ; ‘sebaiknya jangan mengulang-ngulang seseorang yang pernah ada dihati pada masa sebelum pernikahan, sebab akan menyebabkan rasa curiga dan cemburu salah satunya.Pikiranku segera membantahnya saat itu, bagaimana dengan konteks cinta Rasul kepada Khadijah yang membuat Aisyah selalu cemburu ? Apakah Nabi Salah? Tapi sudahlah mungkin ini hanya soal cara memandang cinta konstitusi dan cinta esensial.
Karena cinta esensial bukan hanya sekedar kisah antara sepasang remaja dalam dongeng abadi Shakespeare romeo and juliet. Atau berbagai narasi filsafat romantisme yang di gelorakan oleh Fichte, Schelling, Schopenhauer, dan Nietzsche tentang ‘Dionysian’ yakni emosi yang meluap antara seorang yang berbeda jenis atau sesama jenis.
Cinta juga bisa lahir dari sepasang saudara yang saling mengasihi bukan karena apa dan mengapa? Bukan juga dari mata turun ke hati, tapi karena mereka secara bersama-sama mencoba lepas dari ruang,waktu, usia, ikatan material yang butuh mengapa? Karena cinta esensial tak pernah butuh jawaban, Ia cukup menjadi rasa dan kesadaran bahwa takdir telah memilih mereka untuk bersaudara tanpa perlu tau mengapa Tuhan memilih menyatukan takdirnya.
Kepada kakaku yang telah mengajarkan aku kelembutan dan arti cinta yang tak butuh tanya. Selamat berulang tahun.... ‘Be king for your own happiness’
Kepada saudara-saudaraku yang telah menghabiskan waktu bersama dua tahun ini, kepada seseorang yang menjaga hatiku dengan baik didalam hati yang sudah tak butuh jarak, yang sudah terbiasa mengenal kata tak bersama dan tak berwaktu ...sekali lagi aku mencintai kalian...
Sunday, November 27, 2011
Pesan Bom SubuhJogja

“Semua kekuasaan adalah korup, dan kekuasaan absolut tentu juga korup secara absolut.”
Alan moore- David Lloyd
Jogja tiba-tiba gaduh di subuh tujuh Oktober. Sebuah bom meledak kali ini bukan di mesjid, gereja dan rumah ibadah. Tidak juga di hotel berbintang atau di klab malam yang selama ini diangap tempat maksiat yang dituduh oleh sekelompok orang sebagai kerajaan para kafir. Kali ini sasarannya berbeda, sebuah Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di depan swalayan Vikita, Jalan Gejayan, Nomor 29, Sleman, Yogyakarta.
Terror mereka bukan untuk memperjuangkan Tuhan, apalagi untuk menunjukan eksistensi sebuah keyakinan agama. Mereka yang turun melakukan aksi, menyebut dirinya para ‘kombatan’sebuah pengistilahan yang merujuk pada orang-orang yang berhak ikut serta secara langsung dalam pertempuran atau medan peperangan. Perang yang mereka lancarkan adalah sebuah perang yang terbuka, mereka bukan melakukan aksi terror yang senantiasa berusaha menghilangkan jejak. Lewat peryataan sikap yang disebar disekitar lokasi pemboman dan website yang mereka muat, kelompok yang menyatakan dirinya sebagai International Revolutionary Front (IRF) memuat sebuah peryataan sikap yang menyimpang dari kebanyakan aksi terror di Indonesia. Berikut apa yang mereka sampaikan di website yang beralamat http://325.nostate.net/?p=3224;
“Pemberontakan sosial akan terus berlanjut karena mentari terus bersinar.”Kali ini kami mengatakan, bahwa apa yang kami lakukan merupakan puncak dari semua kegelisahan serta kemarahan kami terhadap sistem yang sedang berjalan ini. Sistem yang memberhalakan uang, sistem yang merecoki keseharian masyarakat dengan televisi, agar mereka membeli barang-barang yang tak mereka perlukan agar mereka terus bekerja seperti mesin. Sistem yang mengharuskan kami beserta masyarakat lainnya tidak memiliki kendali atas hidup kita sendiri.Sistem yang lainnya menguntungkan borjuis, para pebisnis, dan para birokrat negara yang menjadi sekutu setianya. Bagi kami semua, ini bukan saatnya untuk diam, bukan saatnya untuk tenang menonton acara di depan televisi dan berkata bahwa “semua baik-baik saja”.
IRF sedang menyampaikan bahwa ‘dunia sedang tidak baik-baik saja’. Mungkin seperti khutbah Giddens yang menegaskan bahwa kebanyakan dari kita sadar bahwa sebenarnya diri kita turut ambil bagian dalam sebuah dunia yang harus berubah tanpa terkendali yang ditandai dengan selera dan rasa ketertarikan akan hal sama, perubahan dan ketidakpastian, serta kenyataan yang mungkin terjadi.
Para kombatan juga punya pandangan yang berbeda tentang terorisme sebuah pandangan yang layak menjadi cermin bagi kita semua. Kata mereka ; Penyerangan terhadap pusat-pusat finansial: ATM, bank, gedung korporat adalah target yang penting, karena mereka adalah salah satu kolaborator yang menyebabkan penderitaan di muka bumi ini. Ini bukanlah terorisme karena kami tidak mengadvokasikan untuk menyerang orang-orang, terorisme adalah peperangan antar negara. Terorisme adalah beras dan pangan di dapurmu yang semakin menipis. Terorisme adalah bajingan berseragam yang membawa senjata ke mana-mana. Terorisme adalah pembantaian orang-orang tak berpunya.Maka kami mengatakan: sudah cukup!
Reduksi yang indah tentang terorisme sebuah Negara yang diperkokoh oleh sebuah topangan sistim yang disebut sebagia ‘kapitalisme’ yang bersembunyi dibalik topeng perang atas Negara dan agama. Mereka menggugat hal yang sangat intim dari persoalan paling nyata dalam kehidupan setiap individu‘Terorisme adalah beras dan pangan di dapurmu yang semakin menipis”. Apa lagi yang paling esensial selain soal dapur dan sekitar perut. Itulah masalah yang selalu muncul dari setiap ketidakadilan sebuah sistim. Ketika sebuah sistim melindungi segelintir orang, maka sudah pasti ada yang akan dikorbankan dan dimiskinkan.
Saya kemudian teringat sebuah tokoh yang dihidupkan oleh Alan Moore dalam sebuah Novel Gafisnya V Vandeta. V menyadari bahwa kesalahan suatu negeri memang tidak dapat ditudingkan begitu saja pada para birokrat dan politisi, karena bagaimanapun juga, para penguasa fasis tersebut bisa berada di kekuasaannya karena publik membiarkannya karena rasa apatis dan ketidaksadaran yang dibentuk oleh gaya hidup tontonan TV. Mungkin demikianlah pesan yang ingin disampaikan oleh para kombat kepada kita, bahwa di negeri ini kekuasaan yang ditopang oleh sistim kapitalisme adalah terrorisme sebenarnya dan kosongnya beras di dapur kita adalah bentuk terror paling nyata dalam kehidupan personal setiap warga Negara.
Subscribe to:
Posts (Atom)
